Mahasiswa : Bangga Dengan Petani Tapi Malu Megang Cangkul
_______
Penulis :Bin
Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman seperti padi, bunga, buah dan lain sebagainya, dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri atau pun menjualnya kepada orang lain. Mereka juga dapat menyediakan bahan mentah bagi industri.
Di era perkembangan teknologi saat ini anak anak milenial lebih cenderung nyaman dalam memegang gadget atau handphone ketimbang pegang cangkul. Banyak waktu dihabiskan anak anak jaman sekarang hanya untuk bermain game, hura hura, foya foya, maupun bermalas malasan. Bahkan tidak hanya itu, di lingkup organisasi pun sebagian dari mereka sering mengatakan hal yang berkaitan dengan petani seakan akan menggagung-agungkan lewat kalimat itu dengan dalih ingin mensejahterakan kaum petani dengan suara mereka yang dianggap lantang dijalanan padahal kenyataannya bahwa pemuda atau mahasiswa juga tidak mampu memberikan sumbangsih kepada petani. Alih alih berbicara dalam forum diskusi seolah olah memberikan pesan yang tersirat bahwa ialah yang paling konsisten dan hebat dalam mengawal serta membela kaum petani. "Bijak dalam berucap tapi bingung dalam bertindak".
Jika kita ingin memiliki kebanggaan kepada petani sejatinya bahwa kita tidak perlu susah payah menyebar slogan, berteriak lantang, mencari sensasi di kalangan publik hanya untuk mendapat pengakuan. Sepatutnya tidak harus berfikir demikian, tetapi kita juga harus mengambil bagian didalamnya. Artinya bahwa kita tidak mesti harus membahas tentang kampus dan negara melulu, Kita juga harus memiliki jiwa bercocok tanam meski dampaknya bersifat kecil tetapi setidaknya marwah jati diri kita yang hidup dinegara yang kaya akan maritim dan agrarisnya dapat bermanfaat bagi lingkungan di sekeliling kita.
Meskipun kita ketahui bersama bahwa pemuda maupun mahasiswa memiliki peran sebagai jembatan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejauh ini yang kita ketahui Mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change, agent of controll, iron stock, guardian of value, moral force. Justru keadaan saat ini telah berbanding terbalik dimana para pemuda/mahasiswa sangat minim untuk berfikir kritis dan kurang tanggap dalam mengambil sikap terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat terkhususnya petani. Mereka lebih memilih rebahan diatas kasur lalu berkaca di depan gadget ketimbang mengolah lahannya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Memang betul bahwa sejatinya tugas pokok dari mahasiswa adalah mencari ilmu seluas dan sedalam-dalamnya agar nantinya ilmu itu dapat digunakan untuk memajukan bangsa dan negara. Tetapi kelima peran dari mahasiswa tersebut saat ini telah melenceng dari jalurnya. Tidakkah kita tahu bahwa pada era Bung Karno kaum petani itu adalah unsur penting dinegara indonesia. Sebagaimana yang pernah dijelaskan bahwa Petani kepanjangannya adalah "penyangga tatanan negara indonesia" yang diberi nama oleh Bung Karno pada tahun 1952. Hal itu disampaikan oleh Soekarno ketika ia melihat betapa pentingya peran petani dalam menjaga ketahanan pangan. Sistem swasembada pangan harus berjalan sebagaimana mestinya agar digunakan untuk menjaga stabilitas nasional.
Menurut data indexpudi, indonesia memiiliki jumlah lahan sebesar 570.000 kilomter persegi. Peningkatan ekspor komoditas pertanian indonesia dari tahun 2015 sampai pada tahun 2018 Sumbangsih indonesia sangat besar. Bahkan pada tahun 2019 indonesia masuk kategori ke 5 setelah brazil dikutip dari media kompas. Bukan hanya beras dan buah buahan, bahkan keunggulan komoditas kelapa sawit turut mempengaruhi peningkatan efektivitas pertanian di indonesia sebanyak 50 persen dengan total 17,89 miliar dolar amerika.
Banyak diantara kita sebagai pemuda yang orang tuanya memiliki profesi sebagai petani tetapi nyatanya bahwa terkadang anaknya hanya ingin hidup senang dengan segala kebutuhannya. Terlebih jikalau orang tuanya susah payah banting tulang dikampung anaknya malah enak keluyuran ditanah rantau yang entah tidak diketahui arah rimbahnya. Pikirnya kedepan hanyalah menjadi pejabat atau pegawai negeri, Bukannya malah berfikir untuk pulang dikampung halaman membantu orang tua di sawah atau dikebun. Seharusnya pemuda atau mahasiswa dapat memberikan sumbangsih dalam memajukan swasembada pangan di desanya. Bukan malah mengkritik aparatur desa dengan dalih bahwa aparatur desa tidak berpihak kepada rakyat.
Jum'at 24 Juli 2020

👍👍
BalasHapus