KETIKA PANCASILA TERSAYAT MELALUI SISTEM SARA-ISME
_________
Penulis: Bin
Ditinggikan dalam kata, diagungkan dalam tulisan, dimuliakan dalam percakapaan, namun dikhianati dalam perbuatan, itulah pancasila kita hari ini.
Bujang Parewa
SARA merupakan kepanjangan dari suku, agama, ras dan antar golongan. SARA adalah berbagai pandangan dan tindakan berdasarkan pada sentimen latar belakang yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan, serta kesukuan antar sesama golongan.
Indonesia adalah negara multikulturalisme yang memiliki ragam budaya mulai dari ras, suku, agama dan bahasa. Namun terkadang banyak oknum yang menjadikan isu SARA sebagai alat propaganda dalam memecah belah persatuan. Padahal SARA adalah isu yang sangat sensitif dan rentan menyebabkan perpecahan sehingga melahirkan permusuhan. Banyaknya oknum yang beralibi mengenai hal ini, memberikan saya bisikan bahwa kejadian yang melibatkan persolan sepele terkadang di alihkan ke arah isu yang berbau SARA. Di sini saya menilai ada sensitifitas yang berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya reaksi berlebihan terhadap isu SARA. Banyaknya kesalahpahaman yang terjadi membuat kita semakin merasa tidak nyaman karenanya. Apakah tidak cukup persoalan AGAMA yang terjadi kemarin ? dimana banyaknya korban berjatuhan hanya karena persoalan sepele.
Apalah jadinya ketika SARA dialihkan menjadi isu kontroversial yang sangat seksi ketika diperbincangkan, mulai dari hal yang dianggap rasis, ataupun ke arah sukuisme. Pikirku bahwa hal yang berkaitan dengan SARA sudah hilang sejak lama dan tidak akan terulang kembali. Alhasil kejadian seperti itu ternyata terulang kembali di lingkungan kehidupan masyarakat saat ini. Segala sesuatu yang menjadi problema disebabkan karena persoalan sepele belaka, hal itu memang tidak terlepas seketika ada beberapa oknum yang mencoba membuat perpecahan didalam bingkai keharmonisan. Terkadang mereka sengaja menjadi bara api yang menyalah-nyalah agar menyulut emosi setiap kubunya dan pada akhirnya menimbulkan kebencian yang telah lama membudaya.
Sontak akhir akhir ini saya banyak menjumpai berbagai postingan di media sosial mengenai isu SARA dengan mengatasnamakan kubunya dengan slogan “ solidaritas tanpa batas antar sesama ” tetapi jiwa persatuan dalam diri mereka terhadap orang lain masih terlalu minim dan tidak mau memberikan sikap toleransi antar sesama, tidak ingin merangkul pundak yang berbeda kecuali pundak sesamanya. Alhasil yang ada hanyalah sikap keegoisan antar sesama kubu yang masih sangat subur untuk dipelihara. Dalam hal ini sebenarnya saya tidak berniat memojokkan satu pihak, tetapi saya hanya ingin memberikan kita pemahaman secara bersama-sama bahwa betapa indahnya perbedaan ketika terciptanya persatuan dan tidak adanya perselisihan. Saya juga tidak menilai kubu A yang benar dan kubu B yang bersalah, tetapi cara pandang kita lah yang seharusnya di ubah. Sedari awal Ini hanyalah kesalahpahaman belaka yang seharusnya haluan pemikiran itu diubah ke arah yang benar dan bukan sebaliknya. Apakah tidak cukup persoalan RASISME yang terjadi kemarin ? sehingga membuat hati saudara kita tersayat hanya karena ucapan yang tidak senonoh.
Saya melihat banyak diantara mereka saling menyindir, serang-menyerang, menjelek-jelekkan, antar sesama kubu hanya untuk ego yang tidak ada habisnya, ambisi yang tidak ada batasanya, serta sensasi yang tiada hentinya. Inilah potret gambaran bagi mereka yang tidak memaknai arti dari filosofi pancasila itu sendiri sebagaimana slogan berbunyi “ bhineka tunggal ika ” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Bukti ketimpangan yang terjadi merupakan hal yang dapat mencederai nilai nilai budi luhur pancasila itu sendiri. Hal ini memberikan pesan tersirat bahwa mereka hanya mengetahui pancasila sebatas dasar ideologi negara tetapi belum memiliki kesadaran agar dapat menerapkan pancasila itu dengan baik dan benar di lingkungannya. Pemahanan terhadap pancasila seharusnya ditumbuhkembangkan dalam diri setiap insan agar tidak terperangkap dalam logika primordial bahwa yang kita yakini adalah hal yang paling benar.
Kita sebagai masyarakat indonesia dituntut untuk selalu menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan dengan menghormati setiap suku yang ada. Sehingga masyarakat indonesia dapat memiliki rasa nyaman, aman dan tentram dengan hidup berdampingan secara harmoni. Sejatinya bahwa indonesia dibentuk berdasarkan rasa kebersamaan, latar belakang identitas, dan warna kulit. Sehingga indonesia memiliki nilai nilai yang telah tertancap didalam diri masyarakatnya yaitu moderasi, toleransi, dan dialog yang tetap harus dipeihara untuk menangani hal hal yang bisa menyebabkan disintegrasi bangsa. Kita adalah generasi muda bangsa yang berintelektual, yang mampu membawa perubahan arah gerak bangsa ini. Jangan biarkan disintegrasi membudaya dengan leluasa sampai ke anak cucu kita nantinya. Perbedaan itu indah tanpa adanya perselisihan diantara kita. Oleh karenanya mari kita rawat pancasila secara utuh bersama sama, gotong royong bahu membahu untuk bangsa dan negara.
Kendari, 25 Juli 2020

Komentar
Posting Komentar