Ketika Kampus Dijadikan Sebagai Ladang Bisnis
Penulis : Bin

suararevolusi, Kampus adalah daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi ( Universitas, Akademi ) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung. Sekiranya seperti itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam tulisan saya kali ini, saya tidak bermaksud merendahkan atau merusak citra kampus saya sendiri di mata publik. Budaya kampus saat ini lebih mementingkan kepentingan individu ketimbang mementingkan kepentingan kolektiv. Kampus seharusnya dijadikan sebagai tempat menanamkan ide ide segar, berisikan lalu lintas gagasan yang indah dan menantang, masa dimana kampus dijadikan sebagai tempat untuk menempa kader kader yang progresif nan militan.
Sistem pendidikan kita sejatinya berkiblat ke arah barat, pada dasarnya sedari dini kita disiapkan untuk menjadi alat dari industri lalu industri itu berjalan tanpa henti. Kita hanya dijadikan alat birokrasi dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan yang akhirnya menjadi benalu di sebuah lahan. Berbagai problematika yang terjadi dikalangan mahasiswa adalah biaya kampus yang sangat tinggi menjadikan beban orangtua semakin berat apalagi jika dihadapkan dengan situasi ekonomi yang sedang tidak stabil. Di sisi lain orangtua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, di samping itu pula orangtua memikirkan biaya kuliah anaknya yang sedang berada di perantauan. Sungguh kebijakan kampus dalam mengolah sistem membuat sejumlah mahasiswa melakukan kerja sampingan sebagai modal tambahan biaya kuliah. Kampus seolah olah menjelma sebagai pabrik yang mangasumsi metode praktek kapitalisme yang menghisap tenaga manusia atas manusia bangsa atas bangsa.
Apalah daya ketika orangtua yang hanya memiliki pekerjaan seperti petani, peternak, kuli bangunan, nelayan bahkan serabutan yang tak bisa berfikir tenang ketika pembayaran SPP kuliah sudah mulai dibuka pada tempo waktu yang sudah ditentukan. Saya tak ingin memberikan stigma negatif terhadap sesama manusia, akan tetapi saya ingin memberikan semua orang pemahaman bahwa kebijakan kampus tidak seluruhnya memandang secara objektif yang terjadi. Akan tetapi yang ada hanyalah kepentingan untuk mempertebal isi dompet para elit birokrasi. Berbagai cara yang mereka terapkan mulai dari memperjual belikan buku, menyelewengkan beasiswa, bahkan menerapkan kebijakan uang pangkal dengan alasan pembangunan kampus secara berkelanjutan. Hal ini mengingatkan kepada saya apa yang dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa jika ingin melihat karakter asli seseorang, berilah dia jabatan. Sudah jelas bahwa apa yang dikatakan Abraham Lincoln mereka yang menempati posisi jabatan strategis terkadang hanya mementingkan pribadi diri sendiri dengan alasan menggapai cita cita secara bersama sama demi mewujudkan kampus yang maju.
Banyaknya problematika dari mahasiswa yang terancam cuti dikarenakan ketidaksanggupan dan kebimbangan orangtua dalam membayar biaya kuliah. Keluhan macam ini adalah bentuk kekejaman kampus terhadap mahasiswa yang pendapatannya dibawah rata rata. Bersyukurlah kalian yang orangtuanya pegawai atau pejabat yang gajinya yang sanggup memenuhi kebutuhan hidup. Berbeda dengan kami yang harus rela mencari pendapatan sampingan untuk meringankan beban orangtua. Dulunya, kukira menjadi mahasiswa adalah hal yang paling indah yang pernah kurasakan tetapi itu hanyalah angan dari sebuah harapan yang tidak sampai. Pada akhirnya itu adalah sebuah mimpi buruk yang terjadi. Kenyataannya bahwa menyandang status sebagai mahasiswa itu tidaklah mudah banyak persoalan yang harus dihadapi dan dipikirkan.
Kebjiakan kampus terkadang perlu di kritisi mengingat perekonomian yang saat ini sedang tidak stabil. Bahkan terkadang adapula kampus yang sejak awal masuk kuliah memberikan kita formulir untuk tidak melakukan tindakan yang mencemarkan atau mengganggu stabilitas kampus. Formulir itu malah secara terang terangan mencantumkan demonstrasi sebagai perbuatan terlarang dan jika mahasiswa melakukannya maka akan diberikan sanksi yang tegas apalagi sampai merusak fasilitas kampus. Formulir itu mesti ditanda tangani dan mana ada mahasiswa yang menolak ketentuan tersebut. Ketentuan itu muncul karena kekhwatiran pihak kampus pada tumbuhnya kesadaran kritis mahasiswanya sendiri.
Sangat disayangkan ketika kampus hanya dijadikan sebagai ajang perlombaan mengejar gelar sarjana. Disepanjang jalan menuju kampus terpampang banyak baliho yang dijadikan sebagai pemikat dan peneguh keyakinan kalau mahasiswa yang memegang piala dan buku itulah yang diinginkan oleh kampus. Gambar dari senyum mahasiswa ala kadarnya seolah olah memberikan pesan tersembunyi agar bagaimana mereka dapat mencontohi mahasiswa yang mukanya terpasang di baliho tersebut. Singkatnya bahwa ada banyak pesan terbuka yang ingin memberitahukan kalau kehidupan kampus harus diisi oleh canda dan pertarungan untuk mendapatkan posisi sebagai juara. Pikiran aneh apapun termasuk demonstrasi harus dihilangkan sampai sampai harus ditenggelamkan. Jika ini dilakukan secara terus menerus untuk segelintir orang, maka tentunya kampus hanya akan dijadikan sebagai tempat menumpuk ladang bisnis pencaharian mereka.
Komentar
Posting Komentar