Gondrong Adalah Kebebasan
Penulis : Bin

Suararevolusii-Zaman sekarang banyak orang selalu salah dalam menilai seseorang terkhususnya lelaki yang berambut gondrong. Berbagai macam penilaian mereka terhadap penampilan dijadikan acuan stigma yang salah. Bahkan penilaian tersebut kadang dijadikan sebagai bahan cibiran sampai banyak dari masyarakat mengatakan bahwa lelaki yang memiliki rambut gondrong menimbulkan kesan yang seram, kriminal, kotor, dan pemalas. Paradigma seperti ini telah lama di indonesia sejak dulu ketika orde baru berlangsung.
Sejak berlangsunnya orde baru, lelaki yang berambut gondrong ternyata telah menjadi musuh besar selain komunis bagi sang diktator yang berkuasa selama 32 tahun. Sampai pada waktunya, Soeharto beserta para petinggi militer lainnya mengeluarkan aturan tentang pelarangan lelaki berambut gondrong. Bahkan aturan tersebut menjalar sampai pada intansi publik, perusahaan melarang untuk melayani lelaki yang berambut gondrong diantaranya mahasiswa, artis, atlet, dan pelajar. Berbagai macam razia yang digelar disetiap jalan kadang melibatkan anggota ABRI untuk turun ke jalan memantau setiap orang yang memiliki rambut gondrong. ABRI pada saat itu bukan hanya bersenjatakan timah panas tetapi juga membawa gunting dimanapun mereka pergi untuk menumpas seseorang yang berambut gondrong. Bahkan suatu badan lembaga pun dibentuk dengan sebutan BAKOPERAGON ( Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong) yang beranggotakan sejumlah ABRI yang siap menumpas rambut gondrong.
Hampir sejumlah orang dan kaum profesi telah salah dalam menilai lelaki yang berambut gondrong seperti pegawai, dokter, pejabat, guru, dosen, agamawan, dan lain sebagainya. Hanya kaum seniman yang tidak pernah berpandangan seperti yang lainnya. Saya mengatakan seniman adalah orang yang mencintai kebebasan dalam berpenampilan tanpa menilai satu sisi saja. Tetapi dalam hal ini saya tidak membela kaum seniman akan tetapi mereka lebih memahami kebebasan berekspresi dalam penampilan.
Pandangan masyarakat memang harus di perbaiki sedari dulu bahkan saya terkadang merasa kasihan kepada mereka yang selalu berpandangan seperti itu. Pada kenyataannya bahwa kita memang harus memaklumi pendapat mereka yang keliru itu mengenai lelaki berambut gondrong. Karena pada dasarnya bahwa setiap orang memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. Saya sempat berfikir bahwa penampilan seperti kita itu tidak pernah baik di lingkungan kita meskipun kita telah berbuat baik. Ahh, sudahlah mereka juga tidak akan pernah paham dengan apa yang kita lakukan adalah bagian dari kebebasan kita.
Kita harus tahu bahwa logika berfikir mereka telah salah kapra dan telah membudaya hingga kini. Tugas kita adalah dengan melawan budaya tersebut yang telah lama ditanamkan sejak dulu, dengan memberikan pemahaman kepada mereka secara pelan-pelan dapat merubah sedikit demi sedikit stigma budaya lama yang telah berkembang.
Sejatinya bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan perilaku setiap orang. Sebagaimana jelasnya bahwa setiap lelaki yang berambut gondrong memiliki alasan tersendiri dan adapula yang ikut-ikutan.
"Saya sempat mengutip beberapa penggalan kalimat buku yang pernah saya baca bahwa Soeharto mengatakan rambut gondrong bukanlah ciri khas dari budaya orang indonesia melainkan sebuah perilaku orang-orang barat yang identik suka memberontak, radikal, anarkis, pecandu narkoba, obat-obatan, seks bebas, serta penggunaan busana yang terbuka. Sontak secara tidak langsung saya berfikir bahwa apa yang dikatakan oleh Presiden Soeharto adalah suatu kesalahan dalam berfikir dan minimnya pengetahuan tentang sejarah. Jika kita mengkaji ulang dan kembali pada zaman kerajaan, dimana rakyat indonesia yang dulunya masih memiliki istilah Nusantara itu memiliki rambut panjang alias gondrong. Sebut saja seperti Sultan Hasanuddin yang dikenal dengan ayam jantan dari timur".
Bahkan nabi besar umat islam pun Muhammad Saw, panjang rambutnya sampai pundak. Jika kita menengok pada abad 20 kebawah banyak para filsuf, politikus, tokoh sains lainnya yang berambut gondrong sebut saja Plato, Aristoteles, Socrates, Albert Einstein, Karl Marx. Tidak terlepas sampai saat ini kita pun dapat menjumpai para sejarawan, penyair, cendekiawan, serta budayawan yang kerap tampil dengan rambut gondrong. Beberapa diantaranya adalah hilmar farid, emha ainun najib, sujiwo tejo, ridwan saidi, sosiawan leak, dan masih banyak lagi.
Komentar
Posting Komentar