Duka Rahim Sultra


Penulis : Bang Rumput.


Dari atas tingkat sekret komunitas.

Aku mendengar suara-suara rahim sulawesi.
Yang bukanb suka cita,  tapi duka yang bergenang di atas air. Dari layar beranda, Aku melihat kombinasi lumpur hasil  tetesan hujan amarah yang menimbun lima raga  kedalam liang peristirahatan
Sang pahlawan.

Mengapa ini kembali terjadi, Ketika ironi bandang Sentani silam yang masih melekat dalam memori bumi anoa. Kembali hadir dengan ganas di pelupuk pemuda milenial Sultra. Air matamu adalah kicauan anoa yang kehilangan rumahnya. Perihal, di tengah air matamu
Parlemen lebih sibuk mengukuhkan feodalisme dalam gula-gula OTSUSl bersama liputan media yang tak mau memperhatikanmu para pahlawan.

Mengapa dan mengapa Tenda pengungsi sepi empati pusat, Seolah duka ini hanyalah milik Anoa Padahal tambang emas yang berlimpah menjadi sumbangan stabil di dapur republik yang penuh sandiwara ini. Terlalu perih. Kadar air yang membumbung naik menjadi teater stigma para bangsat yang mengaku malaikat. Dengan dialog-dialog serta-merta Yang berbunyi dalil fitnah ke ulayat, Yang lalai merawat alam. Seolah-olah mereka lupa berkaca, Bahwa mereka otak dari semuanya Yang membakar ribuan akar Untuk mendirikan rumah tambang liar Sulawesi.

Biarkanlah duka banjir ini menjadi milik sendiri Bumi anoa. Sebab sudah menjadi lagu lama, Bahwa kau adalah anak tiri di hadapan Pancasila Yang tak sama seperti banjir Jakarta Yang dilegalkan sebagai bencana nasional Sulawesi.

Di akhir rima ini ada sebuah doa Yang selalu yakin Allah swt. tak akan membiarkanmu lama berkabung. Ia pastikan kembali membuatmu berdiri dan menghapus segala duka  Kembali membimbingmu
Untuk menata hidupmu yang cerah di suatu hari yang bernama esok.


*Sajak sang perindu literasi* 23 juli 2020

Komentar